Dia

ilustrasi

ilustrasi

     10 day challenge #KampusFiksi ini semakin lama semakin bawa baper. Setelah bicara dambaan, histeris, dan sekarang pertemuan. 😦
     Tapi seorang lelaki sejati adalah yang tidak gentar menghadapi setiap tantangan. #eaaaa
     Saya akan coba jawab pertanyaan dari Momod Kampus Fiksi dengan jawaban versi saya.

Tanpa menyebutkan namanya, coba ceritakan bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia

Cerita pertemuan pertama biasanya identik dengan cinta-cintaan. Bener gak?. Tapi kali ini saya tidak akan menceritakan tentang cinta

Orang yang akan saya ceritakan ini bisa dibilang orang yang sangat berarti dalam perjalanan hidup saya. Atau bahkan orang yang turut memiliki saham besar dalam perubahan hidup saya kedepannya.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, saya saat ini adalah seorang pengangguran. Tapi selain pengangguran dulu saya hanya tamatan SMP. Ini bener loh. Di jaman sekarang apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tamatan SMP? Harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi mana mampu.
Saya pernah merasakan bagaimana rasanya bangku SMK. Tapi itu tidak lama. Mungkin sekitar satu bulan orang tua saya menyerah karena besarnya biaya yang rasanya mencekik leher.
Tapi semua itu saya tidak kecewa atau bahkan menyesal. Karena saya tahu betapa kerasnya usaha mereka untuk menyekolahkan saya.
Sekitar setahun saya berhenti sekolah. Pikir saya beginilah nasib saya sebagai orang desa. Saya terima apa adanya berkah yang diberikan Tuhan untuk saya. Jika saya di takdirkan untuk menjadi kuli atau buruh tani saya terima itu. Dalam logika saya, ijasah SMP paling bagus jadi kuli bangunan.
Tapi yang lupa saya perhitungkan adalah logika tuhan. Dimana satu ditambah satu bisa jadi seribu. Ditengah putus sekolah saya yang selama setahun itu saya membantu kenalan ayah saya bertani kubis kol. Setiap hari jam 7 pagi saya bekerja sampai jam 4 sore dengan gaji 20ribu perhari. Saya menikmati apa yang saya kerjakan. Sampai saya tulis di blog ini juga.
di sanalah saya bertemu orang itu, teman dari kenalan ayah saya. Saat pertama bertemu dengan beliau, kesan pertama yang saya terima adalah angkuh. Raut Mukanya ramah tetapi tertutup dengan sifatnya yang angkuh. Sangat singkat saya bertemu.

Singkat cerita kira-kira sebulan setelah itu, atasan saya berbicara dengan saya bahwa musim berikutnya tidak akan menanam lagi. Mau pindah dinas katanya. Dan yang hendak meneruskan Usahanya adalah teman yang kemarin dikenalkan ke saya. Orang angkuh yang berwajah ramah dan tembem itu menawari saya untuk membantunya. Dia bilang mungkin hanya menanam satu musim saja. Tanpa basa-basi saya mengiyakan ajakannya. Dari pada nganggur itu yang terlintas di pikiran saya. Selama satu musim beliau menjadi atasan saya

Setelah beberapa lama saya mengenal beliau, ternyata keangkuhan itu tidak ada. Orang nya ramah, baik, dan juga humoris. Hanya kadang-kadang beliau suka jaim. Mungkin itu yang kadang membuat orang berpikir kalau dia angkuh.

Selama satu musim tanam saya bisa dibilang dekat dengan beliau, karena kedekatan itu saya kadang juga curhat dengan beliau. Bisa mengenai banyak hal. Mulai dari hal sepele sampai hal yang mendalam. Beliau pendengar yang baik. Saya juga cerita masalah studi saya yang macet itu.

Berdasar Karena prihatin atau apa, beliau berusaha agar saya bisa melanjutkan sekolah kembali. Mulai dari yang mencari informasi sampai yang mendaftarkan, semua di usahakan oleh beliau. Dan sekarang, saya sudah lulus pendidikan tingkat menengah atas. Meskipun hanya pendidikan kesetaraan itu sudah cukup menurut saya.

Berbekal ijasah ini, saya sekarang mampu mendaftar ke sebuah perguruan tinggi. Berkat beliau rasanya satu pintu masa depan yang terang kembali terbuka. Saya tidak akan melupakan apa jasanya pada saya.

Beliau sudah saya anggap sebagai saudara. Dan meskipun tidak bekerja bersama lagi untuk saat ini, komunikasi saya dengan beliau tetap terjalin baik. Saya tidak habis pikir bagaimana jika Tuhan tidak mempertemukan saya dengan beliau.

Pertemuan pertama yang sangat berarti πŸ™‚

Iklan

2 pemikiran pada “Dia

  1. Jadi terharu bacanya :’) Sesuatu tak terduga memang datang dari yang tak terduga juga. Jadi inget tiga guru di SMA saya. Tanpa bantuan moril mereka, mungkin sayapun akan susah dapat kuliah di kampus saya saat ini. Jadi, mari bersyukur πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s