terpukau di puncak budug asu

pemandangan budug asu

pemandangan budug asu

Seperti biasa sebagai pengangguran, setiap hari seperti panjang dan membosankan. Selain membantu ayah ke ladang, setiap hari tanpa kesibukan serasa menyiksaku secara perlahan.

Tapi Tuhan tidak akan menguji umatnya melebihi kemampuan.

Pagi-pagi sekali teman saya si pudin datang dengan tergesa-gesa. Rupanya dia sedang cuti kerja dan mau mengajak saya jalan tipis-tipis ke wisata yang dekat dengan tempat kerjanya.

Si pudin memang kerja di sebuah panti jompo dekat dengan wisata kebun teh Purwosari, perkebunan negara yang masuk dalam pengelolaan PTPN 12 itu memang terkenal asri dan indah. Selain itu banyak spot menarik untuk di kunjungi. Tapi saya pernah kesana dan rasanya tidak ingin jalan-jalan untuk saat ini. Memang dalam kebosanan ini jalan-jalan memang rasanya menarik. Tapi,

karena alasan minim buget karena status sebagai pengangguran saya menolak ajakan teman saya itu. Lagipula tidak ada hal yang perlu di eksplor lagi di sana. Siapa yang tidak tahu dengan agro wisata milik pemerintah itu?.

Tapi si pudin menceritakan bahwa jalan-jalan kali ini tidak hanya ke kebun teh saja. Ada sebuah tempat baru yang masih ada di dalam kawasan itu. Namanya budug asu. “Budug apa” tanya saya, “budug asu, wes Talah ayo Melu, apik ngen.e”(budug asu, sudah ikut saja, tempatnya bagus) katanya dengan sedikit memaksa. Tapi saya tetap menolak dengan alasan buget. si pudin tetap memaksa dengan semangat empat lima dan rasanya tidak akan menyerah. Dengan memaksa saya untuk ikut. pudin menyanggupi untuk membayar semua biaya transport Dan tiket masuk asal saya mau ikut. karena alasan saya sudah di tepis dengan cantik, dengan sedikit berat hati karena saya tidak enak teman saya yang akan membayar semua biaya, saya ikuti apa mau teman saya ini.

Pada jam 9.30 Kami berangkat dari rumah ke

Kebun teh dengan mengunakan sepeda motor. jaraknya yang lumayan dekat membuat perjalanan dengan kecepatan sedang  memakan waktu satu setengah jam. Kamipun sampai di kebun teh yang asri dan sejuk. Persis seperti apa yang pernah saya kunjungi dulu. Saya baca di loket, Tiket masuk ke wisata ini untuk hari biasa Rp.10000 dan untuk hari libur Rp.15000. yang langsung dibayar semua oleh teman saya. Baik sekali teman saya satu ini Hehehe.

Setelah sampai di sana kami sempatkan untuk keliling dulu. melihat keindahan sekitar kebun teh sambil menunggu solat Jumat sebelum melanjutkan ke budug asu yang di ceritakan sangat indah oleh teman saya itu.

Setelah selesai solat Jumat dan cukup puas berkeliling kebun teh, kami melanjutkan menuju jalan setapak yang menuju ke budug asu. Saat itu cuaca tidak terlalu panas. Malahan bisa dibilang agak mendung. Jalan setapak yang kami lalui ke budug asu juga ada di dalam kawasan kebun teh jadi tidak perlu keluar jauh-jauh. Mungkin ada jalan lain menuju ke sana, saya tidak tahu. Wong saya di ajak hehehe.

pemandangan jalan budug asu
pemandangan jalan budug asu

 Jalan setapak separuh berbatu yang kami lalui cukup terjal. Ada bekas jejak-jejak ban motor trail di jalan yang tidak terlalu ada batunya. Sidak terlalu lama kami berjalan hujan mulai turun. Saran dari saya jika mau ke wisata ini lihat cuaca karena rest area disini ada dua dan itu tidak berdekatan. Hujan turun dengan deras dan kami sedikit berlari supaya cepat sampai di rest area pertama. Karena hujan dan berlari-lari kami tidak bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang jalan. Sekitar setengah jam kami duduk di rumah kayu menunggu hujan reda. Saat hujan reda kami melanjutkan perjalanan ke puncak dengan pelan supaya bisa menikmati perjalanan. Selama perjalanan kami disuguhi keindahan alam yang bisa dibilang terjaga asri. Begitu indahnya Cahaya matahari setelah hujan yang menembus kabut Hutan Pinus di jalan yang kami lewati. Kami juga bertemu Para pekerja perkebunan yang pulang selepas bekerja. Orang desa yang ramah penuh senyum dan sapaan itu menambah kesenangan jalan-jalan ini. Di tambah lagi jalanan yang bersih dan masih alami seakan memanjakan mata kita. Tidak ada tangan jahil yang membubuhkan tulisan aneh atau apalah di pohon. kebersihan masih terjaga di tempat ini. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari kebun teh tidak banyak orang yang tahu tentang tempat ini jadi kealamian nya masih terjaga dengan baik. Dan jika nanti banyak yang datang kesini semoga keasrian ini tetap terjaga.

inti masuk
pintu masuk budug asu

Kira-kira satu jam berjalan, kami sampai di pintu masuk budug asu. Pintu masuk itu ada di tengah hutan dan saya lihat ada bangunan kayu kecil yang mungkin di gunakan untuk loket di kemudian hari. Saat kami ke sana, pendakian ke puncak budug asu masih gratis. Saya masih belum tahu

Dimana keindahan yang dibicarakan itu. Tapi rasa lelah ini sedikit terobati dengan melewati jalan yang indah tadi.

inti masuk
jalan tanah budug asu

Setelah melewati pintu masuk kami masih harus mendaki sedikit ke puncak. Jalan berbatu yang kami lewati sudah berubah menjadi tanah lumpur karena habis hujan. Dengan penuh semangat yang mungkin didorong oleh rasa penasaran. Saya mempercepat langkah kaki, sedikit meninggalkan teman saya di belakang.

Dari kejauhan saya bisa lihat puncak budug asu yang berwarna keemasan terhampar luas memantulkan cahaya sore. Hamparan Savana di atas puncak Arjuno. Dan view Kebun teh yang di lihat dari atas seakan memanjakan mata. Rasa lelah saya seakan menghilang yang tersisa tinggal kesenangan dan kekaguman akan karya sang pencipta. Di puncak saya juga berjumpa dengan  pendaki lain. Katanya tempat ini baru diresmikan bulan Agustus tahun 2016 kemarin. Pantas saja jalan kesini masih alami. Meskipun tidak bisa dibilang jalan yang bagus tapi keindahan alam sepanjang jalan itu loh yang menyenangkan.

view budug asu
view budug asu

Setelah saya puas foto-foto dan melepas lelah, kami sepakat untuk turun dari puncak. Sebenarnya saya inggin sekali untuk bermalam di sana. Menunggu keindahan sun rise budug asu yang kata pendaki itu sangat indah. Tapi karena tidak punya alat kemah dan perbekalan saya juga tidak banyak, saya memilih turun.

view rumput keemasan
view budug asu

Saat kami turun, jalanan yang kami lewati terasa lebih indah. Mungkin karena kami tidak tergesa-gesa berjalan. Pada pukul lima sore kami sampai di parkiran kebun teh dan langsung memacu motor untuk pulang karena rasanya sudah kelelahan.

Perjalanan yang sangat seru menjelajahi tempat baru ini menambah wawasan saya akan banyaknya tempat indah di sekitar kita yang belum terkenal dan kita singahi.

view rumput keemasan arjuno
view budug asu
Iklan